"Kami targetkan sampai dengan akhir tahun ini minimal 5.000 sampai dengan 10.000 dapur dari 26.300 dapur tadi sudah terkoneksi dengan CCTV secara sentral," ujar Sudaryono.

Menurut Sudaryono, penggunaan CCTV terintegrasi AI ditujukan untuk memperkuat pengawasan terhadap proses pengolahan makanan dan mencegah pelanggaran prosedur operasional standar (SOP) di dapur.

Sistem tersebut dirancang untuk membantu mendeteksi pelanggaran dalam proses pengolahan makanan sehingga petugas dapat melakukan tindakan pencegahan sebelum makanan disajikan kepada penerima manfaat.

"Kemudian digabungkan atau diamati melalui artificial intelligence sehingga kita bisa lakukan fungsi-fungsi pencegahan terkait pelaksanaan SOP di dapur," ujar Sudaryono.

Ia mencontohkan, sistem pemantauan dapat membantu mengidentifikasi praktik pengolahan makanan yang tidak sesuai standar, seperti meletakkan bahan makanan di lantai, tidak menggunakan sarung tangan, atau memotong sayuran di tempat yang tidak semestinya.

Lebih lanjut, BGN berharap penerapan metode prasmanan dan pengawasan CCTV terintegrasi AI dapat memperkuat pengendalian mutu makanan dalam program MBG.

Kedua langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan keamanan pangan dan pengawasan operasional dapur yang melayani siswa di berbagai daerah.