"Ini bagian dari edukasi bagaimana siswa itu ikut melayani temannya. Di banyak kegiatan makan siang di sekolah, di banyak negara, siswa secara piket ikut terlibat. Di situ ada mengantre, ada melayani, ada belajar sabar. Ini bagian dari pendidikan," tambah ia.
Dengan demikian, pelaksanaan MBG prasmanan tidak hanya berorientasi pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga diharapkan mendukung pembentukan kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Namun demikian, ia juga menegaskan keberhasilan penerapan MBG prasmanan membutuhkan kesiapan dari seluruh pihak yang terlibat, terutama SPPG sebagai penyedia layanan dan sekolah sebagai lokasi pelaksanaan.
"Tantangannya adalah yang harus dilatih adalah dapurnya dan yang harus dilatih adalah sekolahnya. Kami akan memulai prasmanan ini dari dapur yang bisa dan mau, serta sekolah yang mau, bisa, dan punya kerelaan untuk dibantu," terangnya.