NADIKABAR.COM — Bank Indonesia (BI) bakal terus mengurangi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) atau surat utang jangka pendek secara bertahap untuk memperlonggar likuiditas di pasar uang.

Langkah tersebut dilakukan agar dana yang sebelumnya terkunci pada instrumen moneter tenor panjang dapat lebih tersedia di pasar uang dalam jangka pendek dan menengah.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan BI telah melakukan kalibrasi terhadap SRBI, baik dari sisi imbal hasil maupun volume likuiditas yang diserap.

Erwin mencatat posisi SRBI pernah mencapai level tertinggi sekitar Rp1.070 triliun. Sementara posisi terakhir telah turun ke kisaran Rp900 triliun. Dengan penurunan tersebut, BI memperkirakan telah melepaskan likuiditas sekitar Rp150 triliun dari posisi tertinggi SRBI.

"Highest ever posisi SRBI itu pernah 1.070 dan kemarin posisi terakhir sudah turun 900-an, jadi kita sudah rilis sebenarnya likuiditas itu dari SRBI itu lebih kurang dari posisi tertingginya sekitar 150," kata Erwin dalam taklimat media BI, Jumat (23/10).

Menurut dia, BI akan melanjutkan kalibrasi tersebut dengan mempertimbangkan perkembangan likuiditas di pasar. Pengurangan SRBI tidak dilakukan secara tiba-tiba, melainkan secara bertahap dan terukur.

"SRBI itu secara perlahan kita akan kurangi terus secara terukur dengan melihat dinamika yang ada," ujarnya.

Erwin menjelaskan kebijakan tersebut ditujukan untuk menyeimbangkan likuiditas yang berada pada instrumen tenor panjang dengan likuiditas yang tersedia dalam jangka pendek dan menengah.