Meski demikian, ia menegaskan bahwa bank sentral menaruh perhatian khusus terhadap inflasi kelompok pangan bergejolak karena persentasenya telah menyentuh angka lima persen.

Oleh karena itu, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian guna menjaga inflasi pangan bergejolak tersebut agar kembali masuk ke dalam koridor sasaran BI, yakni sebesar 2,5 persen plus minus satu persen.

Terkait tantangan eksternal, Destry turut mengingatkan tingginya volatilitas global akibat fenomena suku bunga tinggi yang ditahan lebih lama oleh negara-negara maju, di mana tingkat inflasi mereka masih berada jauh di atas target sasaran.

Ia menambahkan bahwa probabilitas kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat diperkirakan menjadi lebih kecil pada bulan Oktober ini, namun situasi tersebut tetap menjadi salah satu tantangan yang terus dipantau bagi ketahanan rupiah ke depan.