NADIKABAR.COM — Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 7,74% secara year to date (ytd). Pelemahan nilai tukar ini dinilai masih beriringan dengan pergerakan mata uang negara-negara tetangga.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan pergerakan nilai tukar sebuah negara dipengaruhi oleh faktor global dan domestik, termasuk yang bersifat sentimen dan kebutuhan. Contohnya, keputusan Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga hingga konflik di Selat Hormuz yang mengakibatkan terjadinya gangguan terhadap pasokan energi.
Menurut Erwin, dengan sentimen tersebut, pelaku pasar akan melihat kondisi fiskal AS diambang defisit sehingga akan menerbitkan surat utang lebih banyak dengan suku bunga lebih tinggi. Hal inilah yang membuat posisi indeks nilai dolar AS (DXY) melampaui level 101 dan membuat mata uang negara lain melemah.
"Ketika DXY, indeks dollar menguat, kira-kira mata uang lain? Melemah," ujar Erwin dalam Taklimat Media di kantor Bank Indonesia, Rabu (30/9/2026).
Erwin menyebut mata uang Garuda mengalami depresiasi sebesar 7,74% sepanjang tahun 2026 jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun sebelumnya. Namun, pelemahan juga terjadi di negara-negara lain.
Ia membandingkan volatilitas rupiah yang berada di kisaran 7,30%. Sementara beberapa negara lain tercatat lebih tinggi, seperti Korea Selatan di level 15,6%, Filipina 8,7%, dan Malaysia 8,59%.
"Memang kita secara year to date di posisi tanggal 29 September kita terdepresiasi 7,74% dibandingkan posisi kita akhir tahun," jelasnya.
BI menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar melalui instrumen operasional seperti Non-Deliverable Forward (NDF) maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Langkah intervensi ini ditujukan untuk menjaga agar pergerakan rupiah tetap sejalan dengan nilai fundamentalnya.
"Tentunya di dalam konteks mencoba balancing neraca pembayaran dengan kondisi neraca transaksi berjalan seperti itu, selain koordinasi dengan otoritas terkait, Bank Indonesia juga mencoba membalancing ini dengan mendorong aliran masuk modal asing di capital account," jelas Erwin.
Tak hanya itu, ia memastikan instrumen kebijakan dilakukan untuk menjaga mekanisme pasar antara suplai dan permintaan valuta asing tetap berjalan seimbang. BI mencatat pada periode kuartal-III setiap tahunnya secara historis selalu menunjukkan siklus pemenuhan kebutuhan valuta asing (valas).
Lonjakan permintaan ini utamanya didorong oleh aktivitas repatriasi serta pemenuhan kebutuhan impor, sehingga dinamika pada akhir kuartal memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan akhir bulan biasa.
Erwin menilai hingga akhir kuartal-III merupakan titik puncak dari kebutuhan valas. Namun, permintaan tersebut akan mereda menjelang akhir tahun.
"Sehingga dengan upaya-upaya yang kita lakukan kita berharap setelah lewat kuartal II ini kita bisa better off sampai akhir tahun itu harapan kita," imbuh ia.