NADIKABAR.COM β€” Bank Indonesia (BI) menyatakan terus mewaspadai risiko yang terjadi di pasar saham domestik, termasuk memantau risiko arus keluar (outflow) modal asing, usai pengumuman MSCI mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia.

β€œKami terus mewaspadai apa yang terjadi di capital market kita. Dan tentunya kami memonitor outflow yang terjadi sepanjang pergerakan yang terjadi setelah (pengumuman) MSCI ini,” kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Destry menjelaskan bahwa isu mengenai pengumuman MSCI tentunya menjadi perhatian bank sentral, apalagi kondisi tersebut juga sempat memberi tekanan pada nilai tukar rupiah pada Jumat (16/10) dan Senin (19/10).

Berdasarkan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah pada Jumat (16/10) berada pada level Rp18.052 per dolar AS dan sebesar Rp18.050 per dolar AS pada Senin (19/10).

Menurut Destry, BI telah melakukan asesmen atas risiko MSCI tersebut. BI memandang tekanan terhadap rupiah masih dalam batas yang cukup normal, karena pada saat yang bersamaan kondisi regional juga tidak terlalu baik.

β€œDan sejauh ini dua hari kemarin memang kami duduk berdiskusi secara tight (ketat) sekali bagaimana kita menyikapi ini,” kata dia.

Adapun kini, rupiah kembali mengalai penguatan pada Selasa (20/10) ke level Rp18.006 per dolar AS serta pada Rabu (21/10) ke level Rp17.986 per dolar AS, berdasarkan kurs JISDOR.