Ia menjelaskan, sektor pertanian tercatat memberikan kontribusi sebesar 1,05% terhadap pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Agus mengatakan, pertumbuhan ekonomi Aceh kini mulai mendekati level sebelum bencana yang terjadi pada akhir tahun lalu.

"Jadi relatively pertumbuhan ekonomi Di Aceh, walaupun di akhir tahun ada bencana, sebenarnya sekarang sudah mendekati sebelum bencana. Jadi biasanya memang di Aceh tumbuhnya sedikit mendekati 5%, memang tidak sampai 5%, tapi mendekati 5%," jelasnya.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Aceh diperkirakan sedikit melambat pada triwulan III-2026. Akan tetapi, perlambatan tersebut diperkirakan tidak terlalu dalam dan terjaga.

"Memang di triwulan III perkembangan kita akan sedikit turun, tapi nggak akan jauh. Jadi memang pertumbuhan kita relatif cukup baik," terangnya.

Agus menjelaskan, pengendalian inflasi di daerah dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang juga melibatkan BI. TPID memiliki sejumlah tugas, mulai dari mengumpulkan data, merumuskan rekomendasi kebijakan, hingga mengimplementasikan langkah-langkah untuk mengatasi berbagai tantangan dalam menjaga stabilitas inflasi.

Selain itu, dilakukan pula Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) di sejumlah wilayah. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan di Sumatera, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, serta Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua). Selanjutnya, pelaksanaan GPIPS dijadwalkan berlangsung di Kalimantan pada November.