Meski demikian, BIKE menyatakan sejumlah rencana ekspansi lainnya masih dikaji. Evaluasi mencakup kelayakan usaha, skema pendanaan, perizinan, hingga pemenuhan ketentuan regulasi sebelum keputusan realisasi diambil.

MAHA mendapatkan kontrak baru untuk jasa transportasi batu bara dari Ade Putra Tanrajeng, anak usaha Kutai Bara Nusantara. Nilai kontrak diperkirakan mencapai Rp2,20 triliun dan akan berjalan hingga 2030.

Kontrak dengan periode sekitar empat tahun tersebut memiliki nilai rata-rata sekitar Rp550 miliar per tahun. Nilai itu setara dengan sekitar 17% dari estimasi pendapatan tahunan MAHA.

Tambahan kontrak tersebut memperluas portofolio pekerjaan dan basis pelanggan MAHA di sektor jasa angkutan batu bara. Namun, realisasi kontribusinya terhadap pendapatan perseroan akan bergantung pada pelaksanaan pekerjaan serta ketentuan operasional dalam kontrak.

Sebelumnya, MAHA juga membukukan pertumbuhan kinerja pada semester I 2026. Pendapatan tercatat Rp1,65 triliun, naik 34,13% dibandingkan Rp1,23 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Laba bersih MAHA turut meningkat menjadi Rp142,13 miliar dari Rp12,90 miliar pada semester I 2025, atau tumbuh 1.002,01% secara tahunan.

KKGI melanjutkan kegiatan eksplorasi melalui dua anak usahanya hingga September 2026. Porsi terbesar pengeluaran berada di Insani Baraperkasa (IBP), tepatnya di Sub Blok Handil Bakti.

Belanja eksplorasi di area tersebut mencapai sebesar USD 2.92mn atau sekitar 98.55% dari total, sementara Loa Haur di Blok Utara hanya USD 0.04mn per September 2026.

Kegiatan di IBP berkaitan dengan basis cadangan dan sumber daya yang dimiliki. IBP tercatat memiliki cadangan 139,26 juta ton dan sumber daya 565,66 juta ton. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan produksi batu bara pada 2025 yang berada di sekitar 3,58 juta ton.