NADIKABAR.COM — Co-founder Microsoft Bill Gates mengusulkan agar perusahaan yang memakai robot sebagai pengganti manusia tetap harus membayar pajak pekerja.

Dalam sebuah wawancara dengan Ezra Klein dari The New York Times, sang filantropis mengatakan bahwa masyarakatlah yang berhak menentukan cara mendukung para pekerja. Bahkan jika mereka harus tergeser oleh kecerdasan buatan (AI).

"Anda menetapkan satu unit tenaga kerja dan menyatakan bahwa, terlepas dari apakah pekerjaan itu dilakukan oleh manusia atau robot, Anda tetap harus membayar pajak FICA (Federal Insurance Contributions) yang sama dengan yang dibayarkan oleh pekerja manusia," ujar Gates, merujuk pada pajak penggajian (payroll tax) di Amerika Serikat.

Melansir Business Insider, Rabu (28/10/2026), pajak FICA bekerja dengan cara memotong sebagian gaji pekerja untuk mendanai program seperti Jaminan Sosial (Social Security) dan Medicare. Pemberi kerja juga memberikan kontribusi dengan jumlah yang setara.

Menurut Gates, mengenakan pajak pada robot yang mengambil alih pekerjaan manusia akan menjamin adanya jaring pengaman finansial bagi warga sekaligus memastikan pendapatan pajak tetap mengalir ke pemerintah.

"Hanya karena sinyal ekonomi menunjukkan bahwa penggunaan AI akan menekan biaya, bukan berarti masyarakat harus melakukannya," katanya.

Gates sebelumnya telah memperingatkan bahwa AI dan robotika berpotensi melenyapkan pekerjaan kantoran (pekerja kerah putih). Dalam sebuah esai sepanjang hampir 6.000 kata yang diterbitkannya pada bulan Agustus, ia menyebutkan pekerjaan kantoran sudah mulai terdampak secara moderat. Dia memperkirakan pekerjaan sektor buruh (pekerja kerah biru) pun akan segera mengalami hal serupa.

Meskipun Gates menyatakan pengembangan robot fisik masih tertinggal dibandingkan sistem kecerdasan buatan (AI), ia berpendapat banyak orang meremehkan seberapa cepat robot berbentuk manusia (humanoid) akan mampu mengejar ketertinggalan tersebut.

Dalam esainya, Gates pun mengusulkan pengenaan pajak terhadap penggunaan AI. Menurutnya, ini dapat sedikit memperlambat peralihan dari tenaga kerja manusia serta mengumpulkan dana untuk pelatihan ulang dan jaring pengaman sosial yang lebih kuat.

Gates bukan satu-satunya pihak yang berpendapat bahwa pesatnya perkembangan AI memerlukan pendekatan baru dalam hal perpajakan. CEO Anthropic Dario Amodei telah menyerukan kebijakan pajak yang serupa -- bahkan lebih tegas -- yang mungkin ditujukan bagi perusahaan-perusahaan AI.

Sementara itu, OpenAI telah mengusulkan pajak yang dikaitkan dengan tenaga kerja otomatis sebagai bagian dari rencana yang lebih komprehensif untuk merespons disrupsi yang dipicu oleh AI.

Gates pertama kali melontarkan gagasan mengenai pajak robot pada tahun 2017 dalam sebuah wawancara dengan Kevin Delaney, yang saat itu menjabat sebagai CEO Quartz. Hampir 10 tahun berselang, gagasan tersebut masih menjadi perhatiannya.

"Saya tetap sangat mendukung gagasan ini," tulis Gates dalam esainya.

"Meskipun bukan satu-satunya solusi untuk menghadapi ancaman AI, langkah ini merupakan bagian dari respons yang bijak," pungkasnya.