NADIKABAR.COM — Bill Gates kembali memperingatkan bahaya kecerdasan buatan, khususnya masa transisi penuh gejolak selama 20 tahun sebelum umat manusia berpotensi memetik manfaat penuh darinya. Di dunia baru tersebut, ia meyakini sebagian orang mungkin akan memilih untuk hidup seperti kaum Amish.
"Kekhawatiran utama saya adalah masa transisi 20 tahun ini, di mana akan ada pihak yang menang dan kalah serta banyak disrupsi dan kita harus melewati fase itu untuk bisa mencapai masa kelimpahan," kata salah satu pendiri Microsoft berusia 70 tahun itu dalam podcast Decoder.
Wawancara tersebut mengudara saat Microsoft, di mana Gates menjabat sebagai CEO hingga tahun 2000, mengumumkan penawaran pengunduran diri sukarela pada para karyawannya. Berdampak pada sekitar 60.000 pekerja, program tersebut tampaknya ditujukan untuk menutupi biaya infrastruktur AI.
Dikutip NadiKabar dari People, Gates percaya AI perlu diatur karena pemerintah mengawasi berbagai industri yang menurutnya bahkan tidak ada sepersejuta bahayanya dibandingkan AI.
"Setelah Anda punya banyak pesaing, tingkat tanggung jawabnya tak bisa lagi diserahkan kepada perusahaan. Itu sudah sangat jelas. Tanggung jawab itu jadi milik pemerintah, sama seperti pada setiap produk berbahaya lainnya, meski skala dan tingkat perubaha produk lain tersebut sangat kecil jika dibandingkan AI," ujarnya.
Menjaga keselamatan masyarakat adalah mutlak. "Anda tentu tak ingin memfasilitasi bioterorisme. Kita telah menciptakan sesuatu yang membuat kemampuan untuk melakukan kerusakan massal tidak lagi hanya dimonopoli oleh negara-terutama negara-negara besar," imbuhnya.
Namun, Gates juga memandang AI sebagai teknologi dengan kemampuan untuk kebaikan dan mengubah masyarakat dengan kecepatan jauh lebih tinggi. Berbagai industri di seluruh dunia akan terdampak.
"Seandainya ini hanyalah mesin yang bisa bekerja di bidang kedokteran atau hanya di hukum atau hanya di pendidikan, itu saja sudah akan sangat disruptif. Tapi (berdampak pada) tiap area aktivitas manusia, sejauh ini baru pekerja kerah putih, pekerjaan intelektual, tapi sebentar lagi akan mencakup aktivitas fisik dan pekerjaan kerah biru juga, melalui robot humanoid," sebutnya.
Namun, ia menambahkan, manusia memiliki pilihan tentang batasan apa yang mereka terapkan pada AI di dunia kerja. Beberapa profesi, seperti pengasuhan anak, olahraga, penyiapan makanan, dan seni, mungkin akan dikhususkan bagi manusia.
"Meskipun AI bisa melakukan hal-hal tersebut dengan lebih baik, kita akan memilih untuk tetap melakukannya sendiri," katanya. Kelompok masyarakat tertentu bahkan mungkin memilih untuk hidup tanpa kehadiran AI.
"Kita akan memiliki pilihan nyata. Kita memiliki kelompok-kelompok tidak besar, seperti kaum Amish, yang tidak hidup di garis depan teknologi. Banyak dari umat manusia mungkin memilih tidak hidup di garis depan teknologi karena hal-hal yang kita peroleh dari saling membantu atau dari menciptakan ide-ide unik," sebutnya.
Amish adalah kelompok Kristen tradisionalis di Amerika Serikat. Kaum Amish dikenal karena gaya hidup sederhana, pakaian bersahaja, serta tidak terburu-buru mengadopsi kemudahan teknologi modern.
Di akhir wawancara, Gates mengatakan kebangkitan AI akan menjadi periode paling penuh gejolak dalam sejarah manusia. "Saya benci jadi pembawa berita meresahkan mengenai hal ini, tapi akan jauh lebih buruk jika tidak memberi tahu orang-orang bahwa hal ini akan datang," ucapnya.