Bursa kripto raksasa itu berulang kali menyatakan akan menanggung dampak keuangan dari dana yang dicuri dalam peretasan tersebut. Perusahaan telah menyisihkan sekitar US$6,34 miliar dana internal perusahaan untuk menutup kerugian.

Dana yang digunakan untuk membeli token pengganti berasal dari Secure Asset Fund for Users (SAFU) milik Binance senilai US$1 miliar. SAFU merupakan cadangan Bitcoin yang disiapkan perusahaan untuk melindungi nasabah jika terjadi pelanggaran keamanan. Selain itu, dana juga berasal dari sebagian Futures Insurance Fund dan kas perusahaan.

Co-CEO Binance Yi He pada Sabtu mengatakan 50 persen dana SAFU akan digunakan untuk menutup kerugian. Namun, perusahaan berkomitmen mengisi kembali dana tersebut hingga mencapai sekitar US$1 miliar.

Binance memiliki 335 juta pengguna terdaftar di seluruh dunia. Berdasarkan laporan tahunan 2025, perusahaan tersebut mengelola aset nasabah senilai sekitar US$162,8 miliar.

Berdasarkan laporan Reuters, Minggu (1/11), peretasan Binance menambah panjang daftar kasus pencurian aset kripto. Tahun lalu, para peretas mencuri aset kripto senilai US$2,9 miliar dalam hampir 150 serangan, menurut data perusahaan riset TRM Labs.

FBI mengaitkan peretasan Binance dengan Korea Utara. Sejumlah analis menyebut aksi itu kemungkinan merupakan salah satu pencurian keuangan terbesar yang pernah terjadi.

Sabtu lalu (31/10), FBI menuding unit yang disponsori negara Korea Utara bernama TraderTraitor bertanggung jawab atas serangan tersebut.