NadiKabar sudah menghubungi perwakilan Korea Utara di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meminta tanggapan. Pyongyang sebelumnya telah membantah tuduhan keterlibatan dalam berbagai aksi peretasan.

Sementara itu, FBI turut memonitor kasus ini. FBI mengatakan bahwa mereka mengetahui insiden tersebut dan tengah bekerja sama dengan mitra terkait dari sektor pemerintah maupun swasta.

"FBI mengetahui insiden tersebut dan sedang bekerja sama dengan mitra terkait dari sektor publik dan swasta untuk memahami cakupan aktivitas tersebut, mengevaluasi potensi dampaknya, serta mengoordinasikan langkah-langkah investigasi yang diperlukan," demikian pernyataan FBI.

Ini bukan serangan siber pertama yang melibatkan hacker asal Korut. Peretas Korea Utara sebelumnya juga dituding sebagai pelaku pencurian kripto terbesar yang tercatat sebelum insiden Binance.

Pada Februari 2025, mereka diduga mencuri aset senilai US$1,5 miliar dari Bybit, bursa mata uang kripto besar lainnya. Dalam kasus tersebut, para pelaku mencuri aset senilai sebagian besar produk domestik bruto (PDB) tahunan Korea Utara yang dilaporkan, hanya dalam hitungan menit.

Kelompok peretas Korea Utara dikenal memiliki kemampuan tinggi dan menjadi salah satu sumber pemasukan penting bagi negara yang memiliki senjata nuklir tersebut. Negara itu juga tengah menghadapi berbagai sanksi internasional.