NADIKABAR.COM — Lima bayi orang utan ditemukan di hutan-hutan Distrik Balasore, Negara Bagian Odisha, India. Kelimanya diduga korban perdagangan ilegal.
Dilansir tim redaksi, dugaan penyelundupan ilegal satwa liar ini oleh jaringan antarnegara menguat lantaran orang utan bukan satwa asli India. Habitat alami orang utan yaitu di Indonesia dan Malaysia, tepatnya di Pulau Sumatera dan Kalimantan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Ristianto Pribadi mengatakan pihaknya tengah berkoordinasi untuk memastikan penanganan dan mengupayakan pemulangan (repatriasi) ke Indonesia. Ia menambahkan, bayi-bayi orang utan itu diduga berasal dari Sumatera.
"Dari pengamatan awal terhadap ciri fisik dan morfologinya, kelima satwa tersebut diduga merupakan orangutan yang berasal dari Pulau Sumatera. Namun demikian, Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa identifikasi tersebut masih bersifat awal dan kepastian jenis serta asal-usul genetiknya akan dilakukan melalui pemeriksaan DNA oleh otoritas ilmiah yang berwenang," kata Ristianto, dalam tim redaksi, Jumat (11/9/2026), dikutip Minggu (13/9/2026).
Berdasarkan informasi awal, orang utan tersebut ditemukan dalam keadaan sehat. Kelimanya kini ditempatkan untuk dirawat dan ditangani di Nandankan Zoological Park, Bhubaneswar, India.
Lima bayi orang utan tersebut berusia sekitar 1-1,5 tahun. Mereka ditemukan tanpa induknya.
Peneliti Amy Scott dan rekan-rekan melaporkan dalam Ethology (2025), sejumlah bayi orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) Gunung Palung National Park, West Kalimantan, Indonesia memiliki peluang bertahan hidup lebih tinggi jika diadopsi, kebanyakan oleh oleh saudara atau kerabatnya sendiri.
Namun, perilaku dan perkembangan bayi orang utan piatu ini dapat berubah. Tanpa ibunya, mereka dilaporkan mengalami percepatan perkembangan kemandirian. Waktu bermainnya juga menjadi lebih pendek.
Selaras, peneliti Signe Preuschoft dan rekan-rekan dalam Animals (2021) mendapati anak orang utan piatu lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain bersama teman sebaya, sehingga waktu istirahatnya dan waktu bermain sendiri jadi lebih pendek. Mereka juga lebih sering berada jauh dari petugas (manusia) pengganti ibunya.
Peneliti Maria Botero dalam Primate Orphans pada Encyclopedia of Animal Cognition and Behavior (2020) mengatakan, pengalaman mengasuh sebelumnya atau usia ibu angkat menjadi faktor penentu keberhasilkan adopsi bayi orang utan (Pongo pygmaeus) dalam penangkaran. Status kekerabatan juga memengaruhi keberhasilannya, seperti kerabat atau bukan, saudara kandung, atau nenek kandung.
Kendati kemampuan meniru dan kemampuan kognitif bayi orang utan piatu tampak tidak berkurang setelah bertahan hidup, Botero menyoroti dampak kehilangan ibu pada sejumlah spesies primata seperti babun, simpanse, dan bonobo. Beberapa di antaranya seperti penurunan pertumbuhan, berkembang biak, panjang umur, status sosial, kesehatan, kemampuan berinteraksi, dan munculnya kecemasan.
Orang utan merupakan mamalia yang butuh waktu panjang untuk tumbuh dewasa. Selama itu juga, bayi orang utan berhubungan dekat dengan ibunya, dikutip dari Orangutan Foundation International.
Bayi orang utan bergantung sepenuhnya pada ibunya untuk memperoleh makanan dan transportasi selama 2 tahun pertama hidupnya. Ia akan berpegangan pada perut, sisi, atau punggung induknya yang bergerak di tim redaksi pepohonan.
Anak orang utan kadang digendong ibunya sampai usia 5 tahun.Bayi orang utan juga menyusu ASI ibunya, terkadang sampai usia 8 tahun.
Panjangnya masa kecil orang utan diperkirakan penting sebagai masa belajar menjelang remaja dan hidup sendiri. Pada periode ini, anak orang utan harus belajar dari ibunya tentang cara mencari makan, pada musim apa mencarinya, apa yang boleh dimakan, hingga cara makan dan alatnya, dikutip dari Smithsonian's National Zoo & Conservation Biology Institute.
Sejak kecil, anak orang utan juga harus belajar hingga cara membuat sarang dan tempat tidur.
Karena ibu orang utan dapat memanjat tutupan pohon yang lebih tinggi, maka keberadaannya juga penting untuk melindungi bayinya dari predator seperti harimau dan ular piton.
Meskipun sudah tidak digendong ibunya, anak orang utan yang beranjak dewasa biasanya masih dekat dengan ibunya. Ia makan dan istirahat bersama ibu hingga usianya sekitar 10 tahun.
Anak orang utan yang telah mandiri kemudian akan hidup sendiri (solitary) atau bersama orang utan muda lainnya. Khusus orang utan betina muda biasanya juga menngunjungi ibunya sampai sekitar 15-16 tahun.