Ia menambahkan, diperlukan pemantauan lanjutan untuk mengetahui apakah konsentrasi asap di permukaan sudah cukup signifikan untuk memengaruhi kualitas udara.
Secara ilmiah, asap kebakaran dapat menempuh jarak jauh karena partikel-partikelnya terbawa aliran udara. Ketika berada di atmosfer atas, partikel tersebut bisa bergerak mengikuti sirkulasi angin sebelum akhirnya tersebar atau bercampur ke lapisan udara yang lebih dekat dengan permukaan.
Salah satu proses yang memungkinkan hal itu terjadi disebut boundary layer entrainment, yakni masuknya udara dari lapisan atmosfer di atas lapisan batas ke dalam lapisan batas tersebut. Lapisan batas atmosfer merupakan bagian terbawah atmosfer yang berinteraksi langsung dengan permukaan Bumi dan aktivitas manusia.
Penelitian yang terbit di jurnal Atmospheric Environment pada 2020 mengkaji asap kebakaran hutan yang menempuh jarak jauh hingga New York. Peneliti menemukan lapisan aerosol asap berada pada ketinggian sekitar 2-5 kilometer. Ketika asap bercampur turun ke lapisan batas atmosfer, konsentrasi PM2.5 di sejumlah lokasi pemantauan meningkat sekitar tiga kali lipat, dari rata-rata 8,4 menjadi 24,8 mikrogram per meter kubik.