Peneliti menyebut, pencampuran asap ke lapisan batas atmosfer dapat menjadi penghubung antara keberadaan asap di ketinggian dan meningkatnya PM2.5 di permukaan. Meski demikian, penelitian tersebut merupakan kasus kebakaran di Amerika Serikat, bukan pengukuran langsung kondisi Jakarta saat ini.
Mekanisme itu memberikan gambaran apa yang mungkin terjadi secara fisik, tetapi tidak atau belum membuktikan bahwa asap karhutla yang terdeteksi di atas Jakarta sudah turun ke permukaan.
Untuk memastikan dampaknya, data citra satelit perlu dibaca bersama pengukuran kualitas udara di darat, terutama konsentrasi PM2.5, serta kondisi angin dan atmosfer. BMKG juga menyediakan pemantauan sebaran asap berdasarkan citra satelit yang dikombinasikan dengan analisis arah dan kecepatan angin.