NADIKABAR.COM — Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan telah terdeteksi mencapai atmosfer Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan sebaran asap terdeteksi melalui pemantauan citra satelit dan analisis meteorologi.
"Bila dilihat petanya (asap berasal) dari Kalimantan. Masih di lapisan atmosfer atas," kata Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengonfirmasi pada Jumat (16/10), dikutip dari NadiKabar.
Ia menambahkan, penyebab asap karhutla bisa sampai ke tiga provinsi tersebut dikarenakan ada transport asap akibat pergerakan angin.
"Kondisi ini terjadi karena transport asap yang dipengaruhi arah serta kecepatan angin di berbagai lapisan udara," jelas Guswanto.
Ia menambahkan, diperlukan pemantauan lanjutan untuk mengetahui apakah konsentrasi asap di permukaan sudah cukup signifikan untuk memengaruhi kualitas udara.
Secara ilmiah, asap kebakaran dapat menempuh jarak jauh karena partikel-partikelnya terbawa aliran udara. Ketika berada di atmosfer atas, partikel tersebut bisa bergerak mengikuti sirkulasi angin sebelum akhirnya tersebar atau bercampur ke lapisan udara yang lebih dekat dengan permukaan.
Salah satu proses yang memungkinkan hal itu terjadi disebut boundary layer entrainment, yakni masuknya udara dari lapisan atmosfer di atas lapisan batas ke dalam lapisan batas tersebut. Lapisan batas atmosfer merupakan bagian terbawah atmosfer yang berinteraksi langsung dengan permukaan Bumi dan aktivitas manusia.
Penelitian yang terbit di jurnal Atmospheric Environment pada 2020 mengkaji asap kebakaran hutan yang menempuh jarak jauh hingga New York. Peneliti menemukan lapisan aerosol asap berada pada ketinggian sekitar 2-5 kilometer. Ketika asap bercampur turun ke lapisan batas atmosfer, konsentrasi PM2.5 di sejumlah lokasi pemantauan meningkat sekitar tiga kali lipat, dari rata-rata 8,4 menjadi 24,8 mikrogram per meter kubik.
Peneliti menyebut, pencampuran asap ke lapisan batas atmosfer dapat menjadi penghubung antara keberadaan asap di ketinggian dan meningkatnya PM2.5 di permukaan. Meski demikian, penelitian tersebut merupakan kasus kebakaran di Amerika Serikat, bukan pengukuran langsung kondisi Jakarta saat ini.
Mekanisme itu memberikan gambaran apa yang mungkin terjadi secara fisik, tetapi tidak atau belum membuktikan bahwa asap karhutla yang terdeteksi di atas Jakarta sudah turun ke permukaan.
Untuk memastikan dampaknya, data citra satelit perlu dibaca bersama pengukuran kualitas udara di darat, terutama konsentrasi PM2.5, serta kondisi angin dan atmosfer. BMKG juga menyediakan pemantauan sebaran asap berdasarkan citra satelit yang dikombinasikan dengan analisis arah dan kecepatan angin.