NADIKABAR.COM — Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan untuk mengurai kepekatan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencegah tertundanya masuknya musim hujan di wilayah terdampak.

Kepala BMKG Faisal ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, mengatakan musim hujan diprediksi akan mulai memasuki wilayah Indonesia pada November 2026, dengan puncaknya diprakirakan akan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

"Kalau kepekatan asap tidak bisa kita kurangi, kita khawatir musim hujan masuknya bisa lebih mundur lagi sehingga kepekatan itu dibongkar dengan melakukan OMC, operasi modifikasi cuaca," ujar Faisal.

Upaya OMC sudah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia di sejumlah provinsi prioritas, tidak hanya menyemai awan dengan natrium klorida (NaCl) tetapi juga memanfaatkan dry ice untuk mendobrak lapisan atmosfer yang menahan asap karhutla.

Kepala BMKG mengatakan kerja sama sudah dijalin antara BMKG bersama Thailand untuk melakukan pemanfaatan dry ice dalam upaya memadamkan karhutla. Uji radiosonde dilakukan untuk mengetahui secara persis titik untuk melakukan penyemaian awan.

Terkait musim hujan, BMKG memprediksi Indonesia akan mengalami curah hujan normal, meskipun dengan periode lebih pendek.

"Sehingga nanti terjadi hujan lebat, sangat lebat hingga hujan ekstrem lebih sering di akhir tahun hingga awal tahun depan, sehingga bencana meteorologi basah yaitu banjir, longsor itu juga perlu kita antisipasi dari mulai sekarang," ujar Teuku Faisal Fathani.

BMKG sebelumnya menyatakan kondisi El Nino intensitas moderat hingga kuat akan bertahan di Indonesia hingga awal 2027. Dampak El Nino di Indonesia akan meningkatkan potensi kekeringan, krisis air serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BMKG memprakirakan awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih lambat, dengan puncaknya diprediksi terjadi pada Desember 2026 sampai Februari 2027.