NADIKABAR.COM — Citra satelit NASA's Eyes on the Earth yang menampilkan sebaran gas karbon monoksida (CO) di atmosfer menjadi perhatian publik di tengah informasi mengenai asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terdeteksi di wilayah Jakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan warna merah hingga jingga tersebut tidak serta-merta menunjukkan udara yang dihirup masyarakat berbahaya.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Marjuki mengatakan citra NASA tersebut memperlihatkan sebaran karbon monoksida pada lapisan atmosfer sekitar 500 milibar atau kira-kira 5-6 kilometer di atas permukaan bumi. Menurutnya, warna merah hingga jingga pada citra itu menunjukkan jumlah karbon monoksida di lapisan atmosfer tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.

"Citra yang beredar berasal dari NASA's Eyes on the Earth dan menampilkan sebaran gas karbon monoksida (CO) pada lapisan atmosfer sekitar 500 milibar, atau kira-kira 5 sampai 6 kilometer di atas permukaan," kata Marjuki saat dihubungi NadiKabar, Minggu (18/10/2026).

"Cara membacanya, warna merah hingga jingga menunjukkan jumlah CO di lapisan tersebut yang relatif lebih tinggi dibanding wilayah lain. Warna tersebut tidak menunjukkan kadar di udara yang kita hirup, tidak otomatis berarti berbahaya bagi kesehatan, dan tidak memastikan sumber emisi di setiap wilayah yang berwarna," sambungnya.

Marjuki menjelaskan karbon monoksida merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna. Gas tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, di antaranya kebakaran hutan dan lahan, kendaraan bermotor, serta kegiatan industri.

Karbon monoksida juga memiliki waktu bertahan yang cukup lama di atmosfer, yakni sekitar satu hingga dua bulan. Kondisi ini membuat gas tersebut dapat terbawa angin hingga ribuan kilometer dari sumbernya dan menyebar ke wilayah yang luas.