Lapisan asap itu dapat membuat langit tampak lebih keruh atau kelabu. Namun, untuk mengetahui apakah asap berdampak terhadap kualitas udara yang dihirup masyarakat, diperlukan pemantauan lebih lanjut.

Marjuki menyebut asap berpotensi turun ke permukaan apabila kondisi angin dan atmosfer berubah. BMKG terus memantau perkembangannya, termasuk melalui pengukuran partikel halus PM2,5 di permukaan.

Marjuki menjelaskan parameter yang relevan untuk mengetahui dampak asap kebakaran terhadap kualitas udara yang dihirup masyarakat adalah partikel halus PM2,5 yang diukur di permukaan. "Masyarakat dapat merujuk pada data pengukuran PM2,5 dari BMKG dan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengetahui kondisi kualitas udara di wilayahnya," jelasnya.

Data pengukuran di permukaan tersebut memberikan informasi yang lebih relevan mengenai kondisi udara yang dihirup masyarakat dibandingkan hanya melihat sebaran karbon monoksida pada citra satelit. "Citra CO tetap bermanfaat untuk melihat arah penyebaran asap di lapisan atas, tetapi bukan pengganti pengukuran kualitas udara di permukaan," tuturnya.

Dengan demikian, warna merah atau jingga pada peta satelit NASA perlu dipahami berdasarkan parameter dan ketinggian atmosfer yang ditampilkan. Warna tersebut tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda bahwa udara Jakarta berbahaya bagi kesehatan.