Karena karakteristiknya tersebut, karbon monoksida kerap digunakan sebagai penanda untuk memantau pergerakan asap kebakaran di lapisan atmosfer atas. Meski demikian, Marjuki mengingatkan sebaran karbon monoksida yang terlihat luas pada citra satelit tidak selalu berarti konsentrasinya tinggi.

Gas tersebut bisa menyebar ke wilayah yang jauh dari sumber emisi tanpa menunjukkan tingkat pencemaran yang sama di setiap wilayah. "Sebaran yang luas juga tidak sama dengan konsentrasi yang tinggi, karena CO dapat bertahan cukup lama di udara sehingga dapat menyebar ke wilayah yang sangat luas dalam keadaan konsentrasi yang lebih rendah," jelasnya.

Dia menegaskan citra satelit tersebut bermanfaat untuk melihat pergerakan gas di atmosfer. Namun, informasi itu tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan untuk menilai kualitas udara yang dihirup masyarakat.

Di sisi lain, BMKG juga memantau lapisan asap di atmosfer wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat melalui citra satelit Himawari-9. Marjuki mengatakan lapisan asap tersebut berada pada ketinggian sekitar 2-3 kilometer di atas permukaan dan terbawa angin di lapisan atmosfer atas.

Dalam kondisi tersebut, asap belum tentu turun hingga ke lapisan udara dekat permukaan yang dihirup masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan asap di atmosfer tidak otomatis menandakan polusi udara di permukaan meningkat.