NADIKABAR.COM — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 6,6% YoY menjadi Rp 16,1 triliun. BNI juga mencatatkan laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) sebesar Rp 27,5 triliun hingga kuartal III-2026, tumbuh 11,6% secara tahunan (year on year/YoY).
Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode kuartal III, mencerminkan ketahanan fundamental perseroan di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan margin industri perbankan.
Kinerja tersebut didukung pertumbuhan kredit sebesar 22,2% YoY menjadi Rp 992,5 triliun dengan distribusi yang merata di semua segmen. Dana murah atau current account savings account (CASA) juga tumbuh 19,6% YoY menjadi Rp733,7 triliun, sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross membaik menjadi 1,9%.
Di tengah dinamika ekonomi global, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Oktober 2026, BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% serta memutuskan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap mulai November 2026. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat likuiditas perbankan dan mendukung penyaluran kredit ke sektor produktif.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan konsistensi perseroan dalam menjaga pertumbuhan bisnis yang berkualitas melalui penguatan fundamental dan pengelolaan risiko.
"Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan," ujar Putrama dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).
Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BNI tumbuh 13,6% YoY menjadi Rp 33,2 triliun, sedangkan fee-based income meningkat 8,3% YoY menjadi Rp13,9 triliun.