Metode penyemaian dry ice dipercaya mampu melabilkan suhu udara di atmosfer, sehingga asap karhutla yang terperangkap akibat lapisan inversi dapat bergerak naik dan menyebar, sehingga kepekatannya dapat berkurang.
Berbeda dengan material Natrium Klorida (NaCl) yang berbentuk serbuk halus pada OMC biasanya, material dry ice berbentuk seperti butiran berukuran sekitar tiga milimeter dan memiliki titik dingin sekitar -75 derajat Celsius.
Metode ini dinilai cocok untuk kondisi saat ini karena material tersebut tidak seperti metode OMC menggunakan material NaCl yang bergantung pada ketersediaan awan hujan.
Pada pelaksanaan awal, BNPB menerbangkan dua unit pesawat dari Bandar Udara Raden Inten II di Lampung dan melakukan penyemaian dry ice seberat 800 kilogram pada ketinggian sekitar 4.500 kaki di atas permukaan.