NADIKABAR.COM — Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Komisi XIII DPR RI melibatkan guru dan tenaga pendidik dalam upaya mencegah siswa terpapar paham radikalisme di era digital.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi BNPT Irjen Pol. Wawan Ridwan mengatakan data sementara pada 2026 menunjukkan sekitar 746 siswa di 26 provinsi terpapar paham radikalisme.
“Data yang dirilis pada 2026 ini masih sementara, sekitar 746 siswa di 26 provinsi, kalau tidak salah,” ujar Wawan didampingi Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso seusai membuka kegiatan Literasi Digital Berbasis Moderasi untuk Memperkuat Peran Guru dalam Menangkal Paham Kekerasan pada Siswa di Medan, Sumatera Utara, Selasa.
Wawan memperkirakan jumlah siswa yang terpapar paham radikalisme di Indonesia masih dapat bertambah. Menurut dia, paham tersebut mendorong cara pandang dan tindakan yang menoleransi kekerasan sebagai jalan keluar dari persoalan.
Ia mengkhawatirkan penyebaran paham radikalisme melalui media sosial dilakukan oleh jaringan terorisme untuk merusak persatuan dan keutuhan Indonesia.
“Ideologi kekerasan itu disebarkan kelompok-kelompok yang ingin menghancurkan Indonesia tanpa harus menggunakan kekuatan militer dan sebagainya,” kata Wawan.
Menurut dia, guru tidak hanya bertugas mengajar materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter siswa dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan.
“Guru menjadi garda terdepan menjaga generasi muda dalam menangkal paham kekerasan,” ujarnya.
Wawan mengatakan pelatihan literasi digital berbasis moderasi tersebut membawa tiga pesan bagi guru dan tenaga pendidik. Pertama, guru perlu menjadi teladan karena anak-anak cenderung meniru perilaku daripada sekadar mendengarkan nasihat.
Kedua, guru diharapkan menjadi pendengar yang baik. Ketiga, guru perlu memproduksi dan menyebarkan pesan positif serta menyampaikan materi pembelajaran dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami siswa.
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso menyambut baik kegiatan BNPT yang melibatkan guru dalam upaya menangkal ideologi kekerasan di kalangan siswa, termasuk melalui penyusunan silabus pembelajaran di sekolah.
“Program literasi digital berbasis moderasi ini menyasar anak-anak kita. Apalagi, pesertanya banyak guru yang nantinya akan dilatih untuk menyusun silabus,” kata Sugiat.
Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Sumatera Utara Arifuddin Muda Harahap mengatakan pelatihan tersebut ditujukan untuk memperkuat upaya pencegahan radikalisme di kalangan generasi muda Sumatera Utara.
“Kami berharap kita semua dapat menikmati kegiatan ini. Karena itu, mari kita satukan niat. Hari ini semuanya untuk Indonesia, semuanya untuk generasi Sumatera Utara,” ujarnya.