Bahkan menurutnya selama sekitar setahun terakhir, perusahaan yang tutup justru posisinya berada di kawasan yang upah minimumnya amat rendah.
"Kalau dibilang kenaikan upah minimum 7,5% sampai 9,5% akan membuat perusahaan tutup, mari kita lihat fakta di lapangan. Jadi 2025 sampai Juni 2026, catatan KSPI, pabrik yang paling banyak tutup, justru pabrik yang di daerah upah minimumnya rendah," ujar Said Iqbal."Di mana? Jawa Tengah, upahnya rendah. Di Jogja, Jawa Timur. Majalengka, Cirebon, Majalengka di Sumedang, itu yang upah minimumnya rendah," lanjutnya menjelaskan.Menurutnya ada beberapa faktor utama perusahaan tutup belakangan ini, pertama menurutnya banyak perusahaan yang berorientasi ekspor mengalami penurunan permintaan karena kondisi perang dan geopolitik dunia.
Said Iqbal yang juga merupakan Penasihan Khusus Presiden mengaku menjumpai beberapa perusahaan yang mengalami masalah semacam ini. "Saya jumpai, kenapa perusahaan tekstil garmen sepatu, kan ini paling banyak tutup ini, tekstil garmen sepatu, itu yang orientasi ekspor, yang banyak tutup, yang orientasi ekspor. Kenapa dia turun orientasi ekspor? Karena permintaan barang di pasar internasional menurun," ujar Said Iqbal.Dia menjelaskan beberapa merek tekstil atau garmen, macam Uniqlo, H&M, Victoria, Ralph Lauren, cukup banyak pabriknya ada di Indonesia. Mulai dari di Kota Semarang, di Kabupaten Jepara, di Kabupaten Majalengka. Nah sayangnya merek besar tersebut banyak menahan permintaan.
"Karena pasar internasional melambat, maka permintaan ke Indonesia juga menurun," jelas Said Iqbal.Faktor kedua yang membuat banyak perusahaan tutup adalah ongkos produksi yang meningkat dan mahal tanpa diikuti kemampuan modal yang mumpuni dari perusahaan.Biaya gas industri, bahan baku, hingga BBM mengalami kenaikan. Hal ini membuat ongkos produksi makin besar dan menggerus perusahaan. Nah di sini lah biasanya perusahaan melakukan berbagai cara efisiensi, termasuk melakukan PHK karyawan.