"Menurut saya, situasinya lebih buruk dari yang Anda gambarkan. Ini seperti Formula 1 pada malam hari, mungkin tanpa rem pada mobilnya," kata Clark.

Ia menyoroti minimnya regulasi keselamatan AI dibandingkan produk sehari-hari.

"Mainan yang saya beli untuk anak-anak saya memiliki regulasi lebih ketat dibandingkan superintelligence yang saya kerjakan setiap hari," ujarnya.

Menurut Clark, perusahaan teknologi tidak boleh menjadi satu-satunya pihak yang menentukan batas keamanan AI. Pemerintah juga perlu terlibat dalam menetapkan standar keselamatan.

Georgieva memperingatkan bahwa risiko AI dapat melampaui manfaatnya apabila tidak disertai perlindungan memadai.

"Jika tidak ada pengaman, risikonya bisa melampaui peluangnya. Dan yang terpenting, kita membutuhkan landasan etika. Saya tidak yakin masyarakat sudah memilikinya," katanya, sebagaimana dilaporkan Reuters.