"Fenomena ini tidak hanya makin parah, tetapi bakal terus memburuk. Saya rasa kita akan melihat lebih banyak frustrasi dan kemarahan--sebagian beralasan, sebagian lagi tidak--dalam kurun beberapa tahun ke depan. Hal ini akan menyulitkan banyak orang, bukan hanya pelaku di industri teknologi," ungkap Mosseri.
Mosseri turut menyinggung fenomena AI slop--sebutan untuk tumpukan konten AI berkualitas rendah, sampah, atau manipulatif yang membanjiri media sosial. Menurutnya, meski istilah AI slop kini digunakan terlalu bebas (too liberally), Instagram tetap membedakan perlakuan algoritma terhadap konten AI dan konten buatan manusia.
"Ada banyak konten AI yang bagus, tetapi ada juga banyak 'AI slop'. Apakah kami memberi peringkat konten AI sebaik konten non-AI? Kemungkinan besar tidak," tegas Mosseri.
Instagram sendiri telah meluncurkan fitur label khusus dan mulai mewajibkan akun buatan AI untuk memasang identitas secara transparan agar pengguna paham apa yang mereka lihat. Kendall demikian, Mosseri menilai pemblokiran total terhadap konten AI bukanlah opsi yang masuk akal.