Studi ini juga menemukan perbedaan antara Amerika Utara dan Eropa, dengan Eropa melaporkan adopsi yang lebih mendalam. Sebagai contoh, 70% dari studio di Eropa mengatakan AI digunakan dalam seni, aset, dan animasi, dibandingkan dengan 53% di Amerika Utara.
"Namun, kita tahu bahwa studio menggunakan AI dengan berbagai cara, mulai dari pembelajaran mesin yang memprediksi pemain yang berhenti bermain hingga otomatisasi berbasis aturan dalam pengujian, dengan hasil yang sangat berbeda. Itu menjadikan sekarang saat yang tepat untuk menetapkan tolok ukur yang jelas," ucap pendiri dan CEO Vivrato, Adam Boyes.
Boyes menambahkan, sekarang pertanyaan paling pentingnya bukan soal studio game mana yang masih memakai AI. Hal ini mengingat, 101 pemimpin studio yang diwawancarai mengaku telah mengadopsi beberapa bentuk AI dalam alur kerjanya.
"Fokusnya sekarang adalah di mana mereka menggunakannya, apa yang berubah, apa yang benar-benar membantu, dan di mana tim masih menghadapi tantangan," tambahnya.