"Jika Anda membangun sebuah produk, orang-orang tidak akan mau menggunakannya jika produk tersebut tidak melakukan apa yang mereka inginkan," katanya.
Agen AI Muse milik perusahaannya yang merupakan asisten AI otonom, popularitasnya meroket. Dirilis 8 September, agen ini dapat melakukan tindakan atas nama pengguna, mulai memesan tiket, membalas email, menyusun ringkasan riset dan membatalkan langganan. Muse jadi aplikasi gratis terpopuler App Store dan Google Play.
Alih-alih mengkhawatirkan skenario kiamat akibat sistem AI yang berkembang pesat, Zuckerberg mengatakan perusahaan AI seharusnya fokus memastikan sistem memahami keinginan serta niat pengguna dan menangani informasi tersebut dengan kebijaksanaan.
"Menuntaskan hal-hal tersebut dengan baik akan menjadi hal terpenting berikutnya untuk diselaraskan dengan apa yang sebenarnya diinginkan orang-orang di dunia," ujar Zuckerberg.
Zuck menyebut sistem Muse sebenarnya terdiri dari beberapa agen yang bekerja sama. Ada agen AI Meta lain yang disebut Sentinel, mengawasi dan mengontrol agen utama Muse. Jika Sentinel mengamati agen Muse berpotensi melampaui batas, ia dapat memperingatkan pengguna dan minta izin sebelum mengambil tindakan.