Menurut Carlos, percakapan memiliki keunggulan karena dapat membawa konteks secara langsung. Ketika seseorang berbicara dengan AI, sistem dapat memahami pembicaraan yang sedang berlangsung dan menggunakannya untuk menentukan respons atau tindakan yang sesuai.
Ia menilai konteks tersebut menjadi penting karena AI tidak cukup hanya mengandalkan data yang sudah tersedia. "Untuk menjadi benar-benar cerdas, AI membutuhkan konteks," kata Carlos.
Menurutnya, kemampuan memahami percakapan juga harus mencakup berbagai bahasa. Hal ini penting terutama di kawasan Asia Pasifik yang memiliki keragaman bahasa.
Carlos memisalkan, teknologi percakapan AI perlu mampu memahami Bahasa Indonesia, Mandarin, Cantonese, Thai hingga dialek lokal. Merespons hal ini, Zoom juga mengembangkan dukungan untuk puluhan bahasa dalam kemampuan transkripsinya.