Capaian tersebut setara dengan sekitar 52,95 persen dari target penyaluran 350.000 unit KPR FLPP pada 2026. Capaian ini menjadi salah satu indikator perkembangan pelaksanaan program pembiayaan perumahan subsidi dalam memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
"Itu sudah ada perluasan juga dari sisi segmentasi penerima manfaat. Kalau sebelum era Pak Presiden Prabowo dulu penerima manfaat sebagian besar itu adalah pekerja formal, fixed income. Namun mulai tahun lalu dengan peningkatan kuota, kita diminta juga untuk meningkatkan inklusivitas penerima Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), terlebih tahun lalu kita bisa merambah hingga 26 segmen baik pekerja formal maupun pekerja non-formal," katanya.
Bahkan untuk pekerja non-formal, lanjutnya, pada saat perjanjian kerja sama dengan bank penyalur BP Tapera sudah mempersyaratkan di mana kalau sebelumnya minimal 10 persen dari total kuota KPR FLPP yang diberikan kepada bank, saat ini BP Tapera meminta minimal 15 persen dari total kuota tersebut sudah disalurkan ke pekerja non-formal.