Pada kesempatan tersebut Adi memaparkan enam program unggulan untuk memperkuat ekosistem perkebunan nasional dari hulu hingga hilir, yakni pertama, peremajaan perkebunan, khususnya melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), baik jalur kedinasan maupun kemitraan, untuk memperbaiki kondisi kebun dan meningkatkan produktivitas.

Kedua, penelitian dan pengembangan melalui dukungan pembiayaan riset serta inovasi dari sektor hulu hingga hilir. Ketiga, pengembangan SDM melalui pendidikan, pelatihan, penyuluhan, pendampingan, dan fasilitas peningkatan kapasitas pekebun maupun pelaku usaha.

Keempat, pengembangan sarana dan prasarana guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi perkebunan. Kelima, promosi perkebunan untuk memperkenalkan produk, memperluas jaringan pemasaran, dan membuka akses pasar melalui program internal maupun kerja sama dengan mitra.

Keenam, pemenuhan kebutuhan pangan, bahan bakar nabati, dan pengembangan hilirisasi. Program ini diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan dan energi nasional sekaligus mendorong tumbuhnya industri pengolahan produk perkebunan.

Melalui enam program tersebut, BPDP berharap komoditas sawit, kelapa, dan kakao tidak hanya menjadi sumber bahan baku industri, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di daerah.

"Penguatan UMKM menjadi bagian penting agar nilai tambah perkebunan dapat dinikmati lebih luas oleh masyarakat, terutama di kawasan pedesaan,” katanya dalam kegiatan yang didukung BPDP tersebut.

Adi menjelaskan, melalui kolaborasi dan dukungan BPDP, sejumlah UMKM mitra berhasil mengembangkan produk berbasis kelapa sawit, kelapa, dan kakao antara lain helm komposit dan rompi antipeluru berbasis serat sawit, batik dengan malam berbahan sawit, produk kriya dari tempurung dan pelepah kelapa, kosmetik, hingga cokelat artisan.