"Jadi karena didesain untuk transshipment hub, dibayang dulu mimpinya adalah kapal-kapal yang melintas, lalu kemudian bisa memanfaatkan pelabuhan kita menjadi hub, lalu kemudian didistribusi ke pelabuhan-pelabuhan lain, tetapi setelah belasan tahun ini dibangun, sampai sekarang ini belum jalan," ungkapnya.

Meski kebutuhan investasi untuk mengembangkan CT-3 sebagai pusat alih muat belum dikaji kembali, Iskandar mengungkapkan India telah lima kali menyampaikan minat bekerja sama dalam pengembangan Pelabuhan Sabang sejak 2018.

Bahkan pada 2001, konsultan asal India pernah melakukan studi untuk menghitung kebutuhan investasi pengembangan Pelabuhan Sabang sebagai pusat alih muat regional yang dapat mendukung kegiatan perdagangan India.

Studiitu rampung 2003dan memperkirakan kebutuhan investasi mencapai US$104 juta atau setara Rp1.879 triliun (kurs Rp18.068). India juga menawarkan skema pembiayaan dengan porsi investasi pemerintah India 80-85 persen, sedangkan RI diharapkan 15-20 persen.

"Sampai sekarang pusat logistik itu belum terwujud. Kami masih mengusulkan kepada pemerintah agar pelabuhan yang sudah dibangun dengan fasilitas memadai itu memiliki kejelasan arah pemanfaatan melalui agenda nasional," ujar Kepala BPKS itu.