Pengakuan tersebut memiliki nilai strategis bagi Indonesia karena kredibilitas regulator dapat meningkatkan kepercayaan terhadap produk dalam negeri. Selain itu, posisi tersebut berpotensi memperluas peluang industri farmasi dan pangan Indonesia untuk menembus pasar internasional, sekaligus mendorong investasi serta pengembangan produk berbasis riset dan inovasi.
Taruna menegaskan bahwa paradigma regulator modern tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pengawasan. Regulasi juga perlu menjadi penghubung tim redaksi sains, inovasi, industri, dan perlindungan masyarakat.
Melalui kerangka ABG, BPOM terus memperkuat komunikasi dan kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta berbagai kementerian dan lembaga.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu mempercepat lahirnya produk inovatif Indonesia yang aman, berkhasiat atau bermanfaat, bermutu, kompetitif, dan mampu bersaing di pasar global. Sinergi tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian kesehatan, meningkatkan daya saing industri, serta memperbesar peran Indonesia dalam ekosistem regulatori internasional.