β€œPelaksanaan risk-based sampling tidak harus mencakup seluruh produk, tetapi harus dilakukan secara tepat berdasarkan tingkat risiko dan data yang tersedia. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan efektivitas sampling melalui kegiatan workshop agar pengawasan terhadap produk obat tradisional dan suplemen kesehatan dapat berjalan optimal,” katanya.

Kepala BPOM berharap agar lokakarya itu dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh peserta untuk semakin memperkuat sistem pengawasan BPOM, terhadap obat tradisional dan suplemen kesehatan yang lebih berbasis risiko.

Tak hanya itu, pengawasan diharapkan terus mengedepankan informasi berbasis data, adaptif, dan berorientasi pada perlindungan kesehatan masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Representatif World Health Organization (WHO) Indonesia Liyana Rakinaturia menyebutkan, penguatan akses obat dan produk medis, termasuk obat tradisional, itu perlu dikembangkan dan dimanfaatkan secara aman berdasarkan bukti ilmiah dengan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama, dan itu adalah mandat WHO.