Kinerja industri pengolahan ditopang oleh peningkatan permintaan dari dalam maupun luar negeri. Salah satunya industri makanan dan minuman yang tumbuh 7,09%, terutama didukung peningkatan ekspor CPKO dan produk turunan CPO serta pemanfaatan CPO di dalam negeri untuk produksi biodiesel.
Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga tumbuh 8,10%. Peningkatan ini didorong oleh produksi FAME seiring penerapan mandatori biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026 serta peningkatan produksi pupuk.
Adapun industri logam dasar mencatatkan pertumbuhan 9,94%, sejalan dengan peningkatan ekspor logam dasar bukan besi dan baja seperti katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium.
Di luar industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor turut tumbuh seiring peningkatan aktivitas perdagangan. Kinerja ini didukung oleh kenaikan penjualan kendaraan bermotor, terutama kendaraan niaga dan listrik, serta peningkatan suplai barang domestik dan impor.
Sektor konstruksi juga mencatatkan pertumbuhan yang didorong pembangunan proyek infrastruktur pemerintah dan swasta. Sejumlah program pemerintah yang menopang sektor ini antara lain pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), perumahan rakyat, Sekolah Rakyat, hingga revitalisasi sekolah.
Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh sejalan dengan peningkatan aktivitas telekomunikasi, traffic data, penggunaan layanan data center, serta transaksi perdagangan melalui sistem elektronik.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB Indonesia dengan porsi 51,97%. Komponen ini tumbuh 5,04% pada kuartal III-2026.