"Selain jumlah air yang diambil, juga perlu dihitung dan dikaji terkait berapa besar air yang benar-benar dikonsumsi dari operasi data center, melalui besar evaporasi yang dapat terjadi, serta berapa yang menjadi blowdown dari operasional pendinginan data center, dan seberapa besar air dapat digunakan kembali dari operasinal data center," imbuhnya.

Oleh karena itu, sebelum memberikan kesimpulan terkait apakah air waduk Jatiluhur dapat digunakan atau tidak untuk mendukung operasional data center, perlu dilakukan kajian terlebih dahulu mengenai besaran kebutuhan air untuk operasional dan sistem pendinginan data center.

Selain itu, perlu juga dipahami sumber air yang akan digunakan, pola pengambilan air, pola operasi Waduk Jatiluhur, neraca air waduk, serta ketersediaan dan keandalan pemenuhan kebutuhan air pada berbagai kondisi hidrologi. Terutama pada musim kemarau atau kondisi tahun kering.

"Hasil kajian tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk menentukan besaran alokasi air yang dapat diberikan, persyaratan efisiensi penggunaan air, serta skenario operasi yang diperlukan agar pemanfaatan air untuk data center tidak mengurangi keandalan pemenuhan kebutuhan air yang telah ada sebelumnya," kata Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN.