Ia menjelaskan program ini mengintegrasikan kegiatan penelitian dengan pengembangan talenta melalui skema Degree by Research (DbR). Menurut Najib, model ini dapat memperkuat kapasitas peneliti muda sekaligus membangun budaya kolaboratif dalam riset sosial dan humaniora.
"Ini bukan sekadar program riset. Ini juga program penguatan sumber daya manusia yang menghubungkan kegiatan penelitian dengan pengembangan talenta peneliti. Program seperti ini perlu terus dikembangkan dan diperluas," ujar Najib.
Sementara, Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN, Aulia Hadi, menjelaskan bahwa PRIS Ekspedisi Masyarakat Adat telah dirancang sejak 2025 sebagai platform kolaboratif yang mempertemukan peneliti BRIN, perguruan tinggi, dan asisten periset yang menempuh pendidikan melalui skema DbR.
Menurut Aulia, riset soal masyarakat adat berangkat dari keragaman budaya Indonesia yang sangat besar, sekaligus adanya kesenjangan antara narasi umum mengenai masyarakat adat dan realitas yang dihadapi komunitas di tingkat lokal.
Karena itu, penelitian diarahkan untuk memahami dinamika kebudayaan dari perspektif masyarakat itu sendiri serta menghasilkan konsep pengetahuan yang berakar pada pengalaman Nusantara.