"Kami tidak ingin masyarakat adat hanya menjadi objek kajian. Mereka juga harus terlibat dalam membentuk dan memproduksi pengetahuan," ucap Aulia.
Diketahui, penelitian menggunakan pendekatan etnografi dengan menempatkan tim peneliti di lapangan selama tiga hingga empat bulan.
Adapun ekspedisi riset ini mengangkat tujuh tema utama, yakni budaya dan kohesi sosial; budaya dan praktik pemerintahan; etos budaya dan ekonomi lokal; adaptasi terhadap perubahan sosial-ekologis; respons terhadap globalisasi; model budaya dan soft power lokal; serta produksi pengetahuan dan kebijakan publik.
Selain menghasilkan publikasi ilmiah dan pengembangan teori sosial-budaya, program ini diarahkan untuk memperkuat jejaring pengetahuan lokal dan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang relevan bagi masyarakat adat.
Sebanyak 29 peserta DbR dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia terlibat dalam program tersebut. Mereka terdiri atas 13 mahasiswa doktoral dan 16 mahasiswa magister yang akan melakukan penelitian di berbagai lokasi masyarakat adat.