NADIKABAR.COM — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan dukungan evaluasi kajian ilmiah terhadap upaya penanggulangan kabut asap melalui operasi modifikasi cuaca menggunakan es kering atau dry ice.

Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Florentinus Heru Widodo dalam keterangan di Jakarta, Senin menjelaskan salah satu pendekatan yang tengah dicoba oleh tim terpadu dalam operasi modifikasi cuaca adalah penyemaian es kering atau karbon dioksida padat.

Berbeda dengan penyemaian awan yang bertujuan meningkatkan peluang turunnya hujan pada awan yang memenuhi persyaratan, penggunaan es kering dalam konteks ini diarahkan untuk menguji kemungkinan terjadinya perubahan kondisi termal pada lapisan inversi.

"Es kering memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Ketika dilepaskan ke atmosfer, bahan tersebut mengalami sublimasi, yakni perubahan dari fase padat menjadi gas, sambil menyerap panas dari lingkungan sekitarnya," kata dia.

Secara konseptual, kata Heru, pendinginan lokal yang terjadi diharapkan dapat memengaruhi perbedaan suhu dan kerapatan udara, memicu pergerakan udara setempat, serta meningkatkan peluang pencampuran udara secara vertikal.

Jika perubahan tersebut cukup besar dan kondisi atmosfer mendukung, lapisan inversi berpotensi melemah sehingga udara dapat bergerak lebih bebas dan pertumbuhan awan memiliki peluang untuk berkembang.