Pengukuran dapat memanfaatkan data radiosonde, yaitu instrumen pengamatan atmosfer yang memberikan informasi mengenai kondisi suhu, kelembapan, dan parameter meteorologi pada berbagai ketinggian.

Selain itu, data pengamatan suhu selama penerbangan juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi lapisan tempat terjadinya inversi serta memperkirakan ketebalannya.

Pengamatan sebelum, selama, dan sesudah penyemaian perlu dilakukan secara sistematis sehingga setiap perubahan kondisi udara dapat didokumentasikan dan dibandingkan.

Menurut Heru, pendekatan tersebut penting karena efektivitas suatu teknologi modifikasi cuaca sangat dipengaruhi kondisi atmosfer pada saat operasi dilaksanakan.

"Kita ingin memastikan bahwa setiap teknologi yang digunakan dalam penanggulangan bencana memiliki dasar ilmiah yang kuat. Data pengamatan menjadi kunci untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan benar-benar mempengaruhi lapisan inversi, atau apakah perubahan kondisi yang terjadi juga dipengaruhi dinamika cuaca lainnya," tutur Florentinus Heru Widodo.