"Penggunaan es kering diharapkan dapat menimbulkan pendinginan lokal dan memengaruhi kestabilan udara pada lapisan inversi. Namun, mekanisme ini masih merupakan hipotesis ilmiah. Kita harus menguji apakah perubahan yang dihasilkan benar-benar cukup untuk melemahkan inversi dan mendukung pertumbuhan awan," ujarnya melanjutkan.
Heru mengingatkan bahwa lapisan inversi dapat memiliki cakupan wilayah yang luas serta tingkat kestabilan yang berbeda-beda. Karena itu, gangguan suhu pada suatu lokasi belum tentu cukup untuk mengubah kondisi atmosfer secara keseluruhan.
Menurutnya, keberhasilan metode tersebut tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan perkiraan mekanisme pendinginan, melainkan harus dibuktikan melalui pengamatan dan analisis data atmosfer.
Untuk mendukung operasi tersebut, Heru menjelaskan, BRIN dapat melakukan analisis berdasarkan data pengamatan atmosfer yang dikumpulkan oleh instansi pelaksana operasi dan BMKG.
Data tersebut mencakup profil suhu udara secara vertikal, kelembapan, ketinggian dan ketebalan lapisan inversi, serta parameter kestabilan atmosfer.