Peningkatan DPK ditopang kuat oleh porsi himpunan dana murah alias CASA yang menembus Rp238 triliun. Komposisi pendanaan yang semakinefisien ini sukses menekan beban dana atau Cost of Fund (CoF) ke level 2,19 persen. Di sisi lain, pendapatan berbasis komisi atau Fee Based Income ikut terkerek naik secara signifikan hingga Rp4,1 triliun.

Kinerja penyaluran pembiayaan BSI juga terpantau tumbuh amat merata di seluruh segmen yang ada. Segmen pembiayaan korporasi atau wholesale mencapai Rp95 triliun, segmen ritel sebesar Rp55,83 triliun, dan konsumer meroket ke angka Rp189,25 triliun. Kualitas aset pembiayaan ini terjaga sangat baik, tercermin dari rasio NPF Gross 1,80 persen dan NPF Net 0,33 persen.

Atas rentetan kinerja finansial yang impresif ini, total keseluruhan aset perseroan sukses menyentuh Rp464,5 triliun. Anggoro menilai rekor peningkatan jumlah nasabah dan aset ini barulah sebuah langkah awal. Inovasi teknologi akan terus difokuskan sebagai motor penggerak utama menuju peluang bisnis perbankan yang jauh lebih besar ke depannya.

"Dengan fondasi teknologi yang semakin kuat, kapasitas sistem yang semakin andal, dan basis nasabah yang terus bertambah, kami memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendalaman hubungan dengan nasabah melalui berbagai solusi keuangan syariah. Ke depan, fokus kami bukan hanya menambah jumlah nasabah, tetapi meningkatkan nilai yang dapat kami berikan kepada setiap nasabah melalui layanan digital yang semakin relevan, mudah, dan terintegrasi," pungkas Anggoro.