Sementara itu, Rektor Universitas Harapan Medan, Hoiruddin Hasibuan menilai pencapaian target pertumbuhan ekonomi membutuhkan kerja sama antara Pemda, perguruan tinggi, dan dunia usaha. Pemerintah menyiapkan kebijakan, perguruan tinggi mengembangkan riset dan sumber daya manusia, sedangkan dunia usaha membantu menghubungkan produk dengan kebutuhan pasar.

"Angka 8 persen (pertumbuhan ekonomi) ini bukan tujuan akhir, tetapi bagaimana kita mensejahterakan masyarakat," kata Hoiruddin.

Ia mencontohkan pengolahan singkong menjadi tepung mocaf sebagai salah satu inovasi yang dapat meningkatkan nilai jual hasil pertanian. Pendekatan serupa, menurutnya, dapat diterapkan pada komoditas unggulan Sumatera Utara, seperti kopi, melalui perbaikan proses pengolahan dan pemasaran. Dengan begitu, petani dan pelaku usaha lokal berpeluang memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari produk yang dihasilkan.

Hoiruddin juga mengusulkan tiga bentuk kolaborasi, yaitu satu daerah satu inovasi, klinik inovasi UMKM, dan desa produktif berbasis kampus. Gagasan tersebut diharapkan membantu Pemda mengatasi persoalan prioritas, meningkatkan kapasitas UMKM, serta memperluas akses pasar bagi produk unggulan desa.

Lebih lanjut, melalui rapat koordinasi ini, BSKDN berharap inovasi daerah tidak hanya tercermin dari jumlah program yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuannya memperbaiki layanan, mengembangkan potensi ekonomi lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi Pemda dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2029.