"Data harus diproteksi in-transit, in-use, dan at-rest," ujarnya.
Ia mengungkapkan masih ditemukan data sensitif yang disimpan atau dipertukarkan tanpa enkripsi sehingga berada dalam bentuk teks biasa (plaintext).
Kondisi ini dapat meningkatkan risiko apabila sistem atau jaringan yang digunakan mengalami gangguan maupun serangan siber.
Rachmad memaparkan kriptografi memiliki sejumlah fungsi utama, mulai dari menjaga kerahasiaan data (confidentiality), memastikan integritas informasi (integrity), memverifikasi identitas atau kewenangan pengguna (authentication), hingga mendukung akuntabilitas agar suatu tindakan tidak mudah disangkal (non-repudiation).
Penguatan kriptografi nasional juga berkaitan dengan perlindungan data pribadi. BSSN mengembangkan layanan kriptografi untuk mendukung pertukaran data, termasuk pada sejumlah kementerian yang menangani program perlindungan sosial.
BSSN turut mengembangkan kemampuan sumber daya manusia melalui Politeknik Siber dan Sandi Negara.