Program ketiga, yaitu Dari Lokal untuk Global, memiliki empat klaster yang masing-masing mencatatkan capaian. Klaster pertama adalah UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor. Melalui klaster ini, Kemendag memfasilitasi 797 penjajakan bisnis (business matching) yang menghasilkan potensi transaksi sebesar US$ 361,55 juta pada Januari-September 2026. Pada 2025, program ini mencatatkan potensi transaksi sebesar US$ 134,87 juta dari 662 kegiatan business matching.
Klaster kedua adalah Desa BISA Ekspor, yang telah membina 787 desa menjadi desa eksportir. Kemendag mencatat, hingga September 2026, sebanyak 121 sentra industri kecil dan menengah (IKM) telah dipetakan untuk mendorong ekspor produk lokal.
Klaster berikutnya adalah kemitraan UMKM, yang memungkinkan 1.203 UMKM menembus jaringan ritel modern dalam negeri, termasuk jaringan ritel milik badan usaha milik negara (BUMN), pada Januari-Oktober 2026.
Sementara itu, melalui klaster keempat, yaitu Campuspreneur, Kemendag berhasil menjalin 27 kemitraan dengan perguruan tinggi untuk mengembangkan potensi usaha sivitas akademika dan mahasiswa agar dapat berkembang dan naik kelas. Dalam keikutsertaan pelaku usaha dari kalangan kampus pada TEI ke-41, tercatat potensi transaksi sebesar US$ 24,57 juta.
"Berbagai capaian Kemendag melalui tiga program prioritas merupakan bagian penting dari dua tahun perjalanan Kabinet Merah Putih. Pemerintah terus berkomitmen meningkatkan kinerja perdagangan domestik, mendorong ekspor, meningkatkan kapasitas pelaku usaha, dan mendorong naiknya daya saing produk-produk lokal agar dapat bersaing secara global," pungkas Busan.