Masalahnya dengan biaya produksi setinggi itu, pendapatan per kapita warga Indonesia masih lebih rendah dari negara tetangga seperti Thailand. Artinya mereka dapat beli beras dengan murah saat pendapatan sehari-hari tinggi.

"Indonesia income per kapitanya tidak sampai Rp 5.000. Thailand income per kapitanya hampir Rp 8.000. Berarti Thailand lebih kaya dari orang Indonesia, tapi dia membayar untuk makan lebih murah. Lebih murah, sehingga dia bisa nabung," tutur Zulhas.

"Dia bisa sekolahkan anaknya lebih bagus, dia bisa mencukupi gizi putra-putrinya, karena penghasil lebih tinggi untuk hidup lebih murah. Kita, penghasil kita lebih kecil, membayar lebih mahal untuk makan. Maka kita miskin, bisa kurang gizi, bisa kurang sarana-sarana. Akhirnya kita kalah bersaing," sambungnya.

Di sisi lain, Zulhas menegaskan Indonesia tidak bisa langsung bergantung pada impor beras dari negara tetangga jika hanya ingin mengejar produktivitas semata. Sebab ketergantungan impor yang tinggi akan sangat merugikan petani dalam negeri.

"Saya ambil contoh tahun 2024 kita impor beras hampir setengah juta (ton). Kalau kita impor beras, beras ini kita impor, artinya petani Indonesia itu sengsara. Tidak dapat manfaatnya. Jadi tidak sederhana. Yang dapat manfaatnya itu petani dari Thailand, petani dari Vietnam, petani dari India," ujarnya.