Padahal apabila efisiensi dan tingkat produktivitas ini tidak segera dibenahi, hal tersebut dikhawatirkan dapat memicu kemiskinan struktural bagi para petani lokal di Indonesia.
"Terus kalau petani kita tidak makmur, lama-lama-lama produktivitasnya rendah. Kalau produktivitasnya rendah, maka akan melahirkan kemiskinan yang masif. Lama-lama petani Lampung ini tidak punya sawah lagi, karena miskin. sawahnya dijual atau digadai, dia berubah menjadi buruh tani. Itu dampaknya itu soal makan. Kemudian apa lagi, kita tidak menjadi negara yang kompetitif," ujarnya.
Untuk itulah menurutnya pemerintah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan para petani lokal di Indonesia. Dengan begitu para petani dapat terus berproduksi dan mendorong perputaran ekonomi nasional.
"Alhamdulillah 2025 kita nggak impor beras lagi. Boleh tepuk tangan ini untuk Indonesia. Apa yang terjadi? Petani kita lebih mamur, nilai tukarnya dari 116 jadi 127. 127 nilai tukarnya, lebih makmur. Bisa sekolahkan anaknya, bisa angsur motor. Alhamdulillah," pungkas Zulhas.