"Kita mulai kalah setelah negara-negara maju mengembangkan apa namanya tuh rekayasa genetik. Jadi kalau kita tanam kedelai di sini, dengan bibit kita itu 1 hektar, 1 ton. Sementara dia, 1 hektar bisa sampai 10 ton jauh sekali," beber Zulhas.
Akibat perbedaan ini, jika Indonesia memaksakan menanam kedelai dengan bibit lokal tanpa penyesuaian, harga jualnya bisa melambung hingga 3 sampai 4 kali lipat lebih mahal. Hal tersebut membuat masyarakat tidak akan sanggup membelinya.
"Jadi kalau kita tanam kedelai kita itu, harga kita bisa 3-4 kali lipat. Itu yang enggak sanggup, enggak bisa beli itu. Enggak makan tempe kita kalau begitu," imbuhnya.