NADIKABAR.COM — Banyak negara menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setiap tahunnya. Namun, ada satu negara yang memiliki program nasional 'menghijaukan' gurun sejak 1978.

Negara itu adalah China. Pada 1978, China memulai proyek 'Great Green Wall' di seluruh China bagian utara, mencakup sekitar 45 persen wilayah negara tersebut.

Proyek penghijauan ini bertujuan untuk melindungi lahan pertanian, desa, jalan raya, dan jalur kereta api dari perluasan gurun Gobi dan Taklamakan. Proyek ditargetkan selesai pada 2050.

China bukanlah negara yang tidak memiliki kasus karhutla. Per 1 Agustus 2026, karhutla di China masih menjadi yang terparah di tim redaksi 16 negara di dunia.

Luas karhutla sampai 1 Agustus mencapai 2,26 juta hektare. Meski api terus melahap sebagian hutan, pemerintah terus berambisi untuk menciptakan hutan baru selama beberapa dekade.

Awalnya, proyek penghijauan di China mengalami tantangan. Banyak tanaman yang ditanam tidak cocok dengan lahan kering.

Namun, ambisi jangka panjang menjadikan semua lini baik masyarakat maupun pemerintah, terus berjuang. Tutupan hutan di wilayah 'Great Green Wall' meningkat dari 5 persen pada 1978 menjadi 14 persen pada 2023.

Kondisi ini juga menurunkan frekuensi dan intensitas badai debu. Efeknya, kualitas udara di kota-kota yang berada di arah angin, terutama Beijing, menjadi lebih baik, demikian menurut Nature.

Penelitian baru menunjukkan bahwa megaproyek besar ini sudah berfungsi sebagai penyerap karbon vital, membantu menstabilkan lingkungan setempat. Pada 2024, pemerintah mengumumkan penyelesaian penghijauan sepanjang 3.046 kilometer di sekitar gurun melalui penanaman miliaran pohon dan semak.

Penelitian yang dipimpin oleh para ilmuwan di Universitas California, Riverside, juga menyebut proyek ini telah memberikan dampak yang terukur baik pada ekosistem lokal maupun siklus karbon global.

Konsistensi China dalam menjalankan proyek ini menghasilkan generasi yang peduli lingkungan. Salah satunya Shi Jianyang yang mempelajari teknologi kehutanan di universitas.

Usai lulus pada 2020, ia bekerja di bidang pengendalian gurun. Timnya, yang awalnya hanya terdiri dari tujuh atau delapan pemuda setempat, kemudian merekrut lulusan universitas dengan keahlian di bidang ilmu tanah, lansekap, dan pengendalian hama, demikian dikutip dari Global Times.

Shi dan timnya menghabiskan lebih dari 40 hari di hutan seluas lebih dari 330 hektare untuk membuat plot sampel, mengukur curah hujan, mempelajari mikroorganisme tanah, dan melacak rebah pohon. Mereka juga menggunakan teknologi seperti drone untuk melakukan patroli hutan dari udara serta irigasi yang dapat dikelola dari jarak jauh.

Selama sekitar satu dekade terakhir, wilayah gurun di China telah menjadi rumah bagi ladang tenaga surya dan angin berskala besar. Panel surya juga memberikan naungan, memerangkap kelembapan, menurunkan suhu tanah, dan membantu mengurangi penguapan.

Sampai saat ini, proyek penghijauan di China masih terus dilakukan. Keberhasilannya disorot secara global karena strategi jangka panjang yang bisa berkelanjutan dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya.