"Buat kacang Rp 11.500 lah, terus buat tenaga Rp 200.000, buat kayu Rp 100.000 per kuintal. Emang kita nggak mikirin listrik juga ya kan? Ya kira-kira Rp 1.500.000 sampai Rp 1.550.000 itu untuk pengeluaran. Pokoknya kalau diuangkan Rp 1.650.000," katanya saat ditemui NadiKabar di lokasi produksi tahu miliknya, Senin (5/10/2026).
Masalahnya dengan selisih pendapatan dari modal produksi yang sangat tipis itu, pabrik miliknya berisiko mengalami kerugian jika terjadi kesalahan teknis saat mencetak tahu. Alhasil penjualan produk sampingan dari sisa produksi seperti ampas tahu dan limbah air kedelai menjadi penopang utama untuk menutupi biaya untuk bertahan.
"Ampas ada yang ambil kebanyakan untuk gembus, oncom, kayak gitu. Gembus yang putih doang yang pakai plastik. Biasanya ada yang ambil, dia bikin itu," ujar Sudiarto.
Sudiarto mengatakan setiap harinya pabrik rumah miliknya itu bisa mengolah sekitar lima kuintal atau 500 kilogram kedelai per hari. Dari jumlah itu, pabriknya mampu menghasilkan sekitar 250 papan tahu dengan sisa produksi sekitar 25 karung ampas tahu yang rutin dibeli.
"Kita hanya tambahannya ampas saja itu ya. Kita ampas diambilin setiap hari. Kalau kita bikin lima kuintal, berarti bisa sampai 25 karung (ampas tahu). Per karungnya kita jual Rp 10.000," terang Sudiarto.